Senin, 09 Januari 2012

laporan 5






PENGENALAN HAMA PENTING JAGUNG, PISANG, MANGGA, DAN KELAPA
( Laporan Praktikum Hama Penting Tanaman)



OLEH
WANTY PRISTIARINI
0914013056





PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011





I. PENDAHULUAN



A.    Latar belakang

Salah satu dari hasil pertanian adalah pisang (mucheae) yang sekarang ini menjadi komoditas keempat terpenting setelah beras,susudan gandum. Di Indonesia merupakan salah satu keragaman pisang segar, olahan, dan pisang liar.Produksi pisang teratas diantara buah lain pad atahun 2002 produksi pisang sebesar 4.384.384 tonsenilai 6,5 triliun rupiah, dan pada tahun 2003 produksinya mencapai 4.505.000 ton senilai 7,2 triliun rupiah. Untuk total produksi pisang di dunia mencapai 80 juta ton/tahun dengan nilai > $8milyar. Sehingga betapa pentingnya komoditas pisang ini dapat menyumbang devisa negara dan dapat membuka lapangan kerja. Menurut Sri (2005) bahwa bagian pada pisang dibagi menjadi empat yaitu batang, daun,buah, dan bonggol. Penyakit yang dapat menyerangtanaman pisang yaitu penyakit layu Fusarium (Fusarium Oxysporum. Sp. Cubense) , penyakit darah, penyakit kerdil pisang, ulat penggulung daun( Erionata thrax L), penggerek bonggol, penggerek batang ( Odoiporus longicolis), Thrips(Chaetanaphotrips signipennis) , burik pada buah(Nacolea octasema) .Dalam sistem pakar terdapat penggabungan antara pengetahuan dan fakta serta mekanisme pengambilan keputusan untuk memecahkan suatu masalah yang biasanya memerlukan keahlian seorang pakar. Sesuai dengan kemampuan dari sistempakar yang merupakan salah satu cabang dari ilmu kecerdasan buatan yaitu : mampu untuk bertinda ksebagaimana seorang pakar pada bidang ilmu tertentu, peneliti berfikir untuk membantu para petani dalam mengidentifikasi penyakit pada tanaman pisang sehingga banyak tanaman pisang yang terserang penyakit dapat ditangani.

Mangga atau mempelam adalah nama sejenis buah, demikian pula nama pohonnya. Pohon mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Mangga bisa mencapai tinggi 10-40 m. Hampir sebagian besar masyarakat menanam pohon mangga ini di pekarangan, namun untuk skala agrobisnis baru daerah-daerah tertentu saja seperti probolinggo dan indramayu yang sekarang ini menjadi sentra produksi mangga. Sehingga produksi yang ada saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang ada. Selain faktor teknis budi daya yang perlu dikuasai, diperlukan juga pemahaman mengenai faktor-faktor yang menjadi pengganggu budi daya mangga, seperti serangan hama dan penyakit. Dengan pengetahuan yang cukup mengenai faktor-faktor tersebut kerugian yang mungkin ditimbulkan akibat serangan hama dan penyakit dapat ditekan dan buah mangga yang dihasilkanpun berkualitas tinggi.

Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan salah satu komoditas pertanian yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia. Oleh karena begitu luasnya kegunaan kelapa tersebut, ia dijuluki pohon kehidupan. Kelapa tumbuh dan dibudidayakan di 80 negara yang terletak di daerah tropis. Kelapa yang merupakan tumbuhan tropis dapat tumbuh dari tepi pantai hingga 1000 meter diatas permukaan laut antara 23o LU dan 23o LS. Batas ketinggian tempat yang secara ekonomi masih layak diusahakan tergantung pada suhu dan/atau jaraknya dai garis khatulistiwa. Hasil pengamatan dari berbagai tempat menunjukkan bahwa pembuahan jarang terjadi pada ketinggian lebih dari 900 m dpl. Menurut perkiraan beberapa ahli, kepulauan di Indonesia merupakan daerah asal kelapa. Tanaman ini telah lama dikenal dan dibudidayakan di seluruh kepulauan Indonesia. Kelapa di Indonesia dapat digolongkan sebagai komoditas strategi karena sekitar 98 persen dari lebih kurang 3,4 juta hektar kelapa diusahakan oleh petani. Disamping itu, banyak kebutuhan hidup penduduknya yang dipenuhi dari kelapa. Salah satu tahapan dalam pembudidayaan kelapa adalah pemeliharaan tanaman kelapa. Seperti yang diketahui, bahwa serangan hama dan penyakit dapat mengakibatkan kerusakan tanaman hingga menimbulkan kerugian ekonomis yang sangat berarti. Bahkan, dalam keadaan tertentu, dapat mengakibatkan kematian tanaman.

Tanaman jagung sudah lama diusahakan petani Indonesia dan merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Jagung dimanfaatkan untuk konsumsi, bahan baku industri pangan, industri pakan dan bahan bakar. Kebutuhan jagung dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seiring berkembangnya industri pakan dan pangan. Kendala dalam budidaya jagung yang menyebabkan rendahnya produktivitas jagung antara lain adalah serangan hama dan penyakit. Hama yang sering dijumpai menyerang pertanaman jagung adalah ulat Penggerek batang jagung, Kutu daun, ulat Penggerek tongkol, dan Thrips. Bulai, Hawar daun, dan Karat adalah penyakit yang sering muncul di pertanaman jagung dan dapat menurunkan produksi jagung. Upaya pengendalian oleh petani pada saat ini adalah dengan menggunakan pestisida atau bahan kimia lainnya yang tidak ramah lingkungan. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang mengintegrasikan komponen pengendalian yang selaras terbukti tidak hanya meningkatkan produksi jagung tetapi juga pendapatan petani. Sistim PHT melibatkan semua komponen yang berpeluang untuk menekan atau mencegah hama untuk mencapai ambang batas populasi merusak secara ekonomi (economic injury level/ economic threshold). Sistim PHT yang bertujuan mengupayakan agar OPT tidak menimbulkan kerugian melalui cara-cara pengendalian yang efektif, ekonomis, dan aman bagi khalayak, produsen, dan lingkungan menjadi acuan dasar dalam pengendalain OPT agar petani tidak bergantung pada pestisida atau bahan kimia lainnya.


B. Tujuan percobaan

Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini, antara lain :
1.      Agar mahasiswa mengetaui bentuk dan gejala serangan hama penting tanaman pisang, mangga, kelapa, dan jagung
2.      Agar mahasiswa memahami bagaimana cara pengendalian yang tepat untuk diterapkan pada hama penting tanaman pisang, manga, kelapa, dan jagung.



















II. TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian hama berhubungan erat dengan kepentingan ekonomi manusia. Hama dapat didefinisikan sebagai binatang yang merusak tanaman sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi karena menurunkan produksi tanaman baik kualitas maupun kuantitas. Dengan demikian tidak semua binatang dapat berstatus sebagai hama (Mudjiono et al., 1991).
Hama adalah suatu penyebab kerusakan pada tanaman yang dapat dilihat dengan pancaindera (mata). Hama tersebut dapat berupa binatang. Hama dapat merusak tanaman secara langsung maupun tak langsung. Hama yang merusak tanaman secara langsung dapat dilihat bekasnya pada tanaman yang diserang, misalnya gerekan dan gigitan. Sedangkan hama yang merusak tanaman secara tidak langsung biasanya melalui penyakit (Matnawy, 1989).
Hama menjadi masalah karena merusak tanaman dengan cara makan, bertelur, berkepompong, berlindung, atau bersarang tergantung spesiesnya. Hama melukai tanaman, menyebabkan kerusakan, mengurangi hasil panen, mengurangi pendapatan petani, dan akhirnya mengurangi kesejahteraan masyarakat. Salah satu faktor yang menentukan pentingnya suatu hama adalah potensi atau kemampuan merusak hama tersebut. Salah satu cara merusak ialah dengan mengambil pakan baik dalam bentuk padat maupun cair menggunakan alat mulutnya. Tanda dan gejala serangan ini sangat penting dalam pekerjaan monitoring hama, karena tanda serangan tiap jenis hama khas atau spesifik sehingga keadaan suatu hama pada suatu saat dapat diketahui dengan pasti dan benar (Wagiman, 2003).
Pengamatan populasi hama secara garis besar dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu (1) pengamatan populasi mutlak, (2) pengamatan populasi relatif dan (3) pengamatan indeks populasi. Masing-masing cara tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan sendiri-sendiri sehingga perlu ditentukan cara mana yang dipilih untuk memberikan keefektivan yang paling besar (Harjaka dan Sudjono, 2005).
Penggunaan pestisida, di samping pertimbangan lingkungan dan lainnya, akan tergantung pada persyaratan energi dan rasio masukkan atau keluaran dalam istilah enrgi dan keuntungan ekonomi. Karena itu srategi yang akan datang dalam mengembangkan langkah-langkah perlindungan tanaman secar terpadu harus ditujukan pada pengendalian hama untuk menstabilkan angka hasil (yield) dalam konteks perkembangan pertanian dan situasi sosio ekonomi. Menurut Untung (1993), pengendalian kimiawi adalah penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama agar hama tidak menimbulkan kerusakan bagi tanaman yang diusahakan. Pestisida mungkin merupakan bahan kimiawi yang dalam sejarah umat manusia telah memberikan banyak jasanya baik dalam bidang pertanian, kesehatan, pemungkinan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam pertanian modern, pestisida telah menjadi bagian yang penting sekali dan tidak dapat dibuang. Namun demikian pestisida adalah zat yang sangat beracun, yang apabila tidak digunakan dengan bijaksana dapat menimbulkan pengaruh atau efek samping yang tidak diinginkan. Maka, untuk melindungi keselamatan manusia, sumber – sumber kekayaan perairan, flora dan fauna serta untuk menghindari  kontaminasi lingkungan peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida perlu diatur. Hal itu tercakup dalam peraturan pemerintah no 7 tahun 1993. tujuan dari peraturan itu supaya pestisida digunakan dengan benar, aman, efektif dan efisien ( Wardoyo, 1997).
Pestisida adalah substansi kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama dalam arti luas (jasad pengganggu). Kata pestisida berasal dari kata pest = hama (jasad pengganggu) dan sida = pembunuh. Jadi, artinya adalah pembunuh hama (jasad pengganggu) yang bertujuan meracuni hama, tetapi kurang atau tidak meracuni tanaman atau hewan (Martin dan Woodcock, 1983 cit. Triharso, 2004).
Pestisida saat ini merupakan sarana pengendalian OPT yang paling banyak digunakan seluruh petani di Indonesia karena dianggap efektif, secara ekonomi menguntungkan. Pada komoditi buah-buahan dan sayuran, penggunaan pestisida sudah berlebihan dan sangat membahayakan kesehatan pekerja, konsumen, masyarakat dan lingkungan. Tingkat pengetahuan dan ketrampilan dasar petani tentang pestisida sangat kurang. Beberapa penyimpangan yang dilakukan petani adalah masalah penyemprotan melebihi anjuran atau di bawah baku anjuran, interval penyemprotan diperpendek, peningkatan praktek “campur-mencampur” pestisida yang tidak sesuai, serta ketidaksesuaian alat (nozel) dengan volume semprot yang digunakan (Untung, 2006).






III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A.    Hasil pengamatan

No.
Tanaman yang diserang
Hama yang menyerang
1
Gejala:
Fotosintesis berkurang, menyebabkan gugurnya daun dan menurunkan produksi buah. Pohon muda bisa mati sementara pohon tua gagal untuk memulihkan pertumbuhan normal setelah serangan berulang-ulang
Kingdom   :Animalia
Filum         :Arthropoda
Kelas         :Insecta
Ordo          :Diptera
Family       :Cecidomyiidae
Genus        :Procontarinia
Spesies     :Procontarinia matteiana
2
Gejala:
Ulat pemakan daun kelapa ini mengakibatkan helaian daun berlubang, bahkan habis sama sekali
Kingdom : Animalia
Filum       : Arthropoda
Kelas       : Insecta
Ordo        : Lepidoptera
Family     : Limacodidae
Genus      : Setora
Spesies    : Setora nitens Walker
3
Gejala :
Bonggol/ batang tergerek/ berlubang-lubang, sehingga batang menjadi layu dan jatuh
Kingdom : Animalia
Filum       : Arthropoda
Kelas       : Insecta
Ordo        : Coleoptera
Family     : Curculionidae
Genus        : Cosmopolites
Spesies   : Cosmopolites sordidus
                 Germ
4.
Gejala
Tongkol menjadi berlubang. Larva yang telah menetas bergerak menuju tongkol lalu menggerek ke dalam. Larva melubangi dekat dengan tongkol. Lubang yang dihasilkan lama-kelamaan berwarna hitam pada lingkaran luar pada bagian dalam tongkol terdapat kotoran dari larva
Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Family             : Noctuidae
Genus              : Helicoverpa
Spesies            : Helicoverpa armigera

B.        Pembahasan
Penggerek bonggol pisang ( Cosmopolites sordidus )
Taksonomi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Coleoptera
Family             : Curculionidae
Genus              : Cosmopolites
Spesies            : Cosmopolites sordidus Germ
Morfologi
- Warna kumbang coklat kemerahan dan berubah jadihitam dan tertutup lilin
- Panjangnya 10-15mm
- Warna larava putih krem dan tidak berkaki

Bioekologi
- Kumbang dewasa memakan tanaman yang telah mati
- Hama aktif pada malam hari
- Hidup dibagian bonggol atau pangkal batang semu yang kelembapannya tinggi
- Kisaran inangnya pisang serat dan pisang buah

Pengendalian
1.      Tanaman yang terserang ditebang dan dipotong kecil-kecil dan dipendam yang dalam
2.      Tanaman bibit yang sehat,bonggol bibit dibersihkan dari hama dan penyakit lalu direndam dengan diazinon atau insektisida
3.      Gunakan perangkap untuk menangkap hama
4.      Basmi hama dengan insektisida butiran Basamid granular )
5.      Secara  kultur teknis dilakukan dengan penanaman bibit  sehat/tidak terinfeksi virus Bunchy Top
6.      Pengendalian mekanis melalui kegiatan sanitasi untuk menghindari serangan penggerek bonggol pisang, pengambilan larva Erionata thrax dalam gulungan
7.      Pengendalian secara fisik melalui pengasapan bunga pisang yang baru muncul
8.      Pengendalian secara hayati dengan memanfaatkan musuh alami berupa jamur Metarhizium anisopliae untuk mengendalikan Cosmopolites sordidus


Puru daun manga
Taksonomi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Diptera
Family             : Cecidomyiidae
Genus              : Procontarinia
Spesies            : Procontarinia matteiana
Belatung puru merupakan stadium larva dari lalat Procontarinia matteiana. Lalat kecil berwarna hitam , panjang tubuhnya sekitar 3 mm , mempunyai gerakan yang lincah dan refleksi kuat.
Bagian tanaman yang diserang
Hama ini menyerang tanaman yang sedang tumbuh secara vegetative , yaitu pada daun-daun yang masih muda. Serangan yang berat akan menyebabkan daun menjadi menggulung
Gejala :
Timbul bintil-bintil pada daun, jika diraba daun manga terasa keras. Jika bintil disayat dengan silet akan ditemukan belatung atau larva kecil, berwarna putih, panjang 1-2 mm. Sebelum serangan belatung ini terjadi , mula-mula lalat betina bertelur pada permukaan daun manga muda. Telur dimasukkan dalam jaringan daun dengan memasukkan ovipositornya. Sekali bertelur, seekor lalat betina mampu mengeluarkan 100-250 butir . Warna telur kuning muda , berukuran 0,1-0,5 mm. Telur menetas dalam waktu 3-4 hari menjadi larva, yang menetap dalam jaringan daun dan menghisap cairan. Daun yang terserang hama ini pertumbuhannya tidak normal, terutama bagian permukaan daun tepat dibagian belatung menetap, timbul bintil-bintil puru. Setiap bintil hanya terdapat 1 belatung yang menetap selama 10-14 hari. Setelah itu keluar dengan cara membuat lubang pada ujung bintil, lalu menjatuhkan diri ke tanah , dan masuk ke dalamnya lalu berkepompong. Masa berkepompong hanya 8-12 hari , yang berakhir dengan munculnya lalat muda Procontarinia matteiana yang nantinya akan menjadi sumber penularan. Lalat ini bergerak pada malam hari
Pencegahan
Menggunakan insektisida sistemik yaitu teknik 10G, Curater 3G, dan furadan 3G. Insektisida ini dimasukkan ke dalam tanah di dekat akar agar bisa dihisap akar untuk diedarkan ke daun. Jika larvamenghisap cairan daun, tentu akan mati keracunan.
Perlakuan injeksi batang untuk pengendalian penggerek batang dan lalat puru.
Pengendalian
1.      Pucuk tanaman yang sudah terserang harus segera dipangkas dan dibakar supaya kutu, nimfa dan telur mati
2.      Tanaman disemprot dengan insektisida sistemik yang bisa menyusup ke jaringan daun, misalnya menggunakan Elsan 60 EC Dan Nuvacron 20 EC.
3.      Penyemprotan dengan insektisida kontak, hasilnya akan kurang memuaskan karena tidak bisa menembus perisai yang melindungi kutu.
4.      Penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord, Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan memperbaiki aerasi.
Ulat api daun kelapa (Setora nitens)
Taksonomi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Family             : Limacodidae
Genus              : Setora
Spesies            : Setora nitens Walker
Biologi
Telur hampir sama dengan telur S. asigna hanya saja peletakan telur antara satu sama lain tidak saling tindih. Telur menetas setelah 4 – 7 hari. Larva mula-mula berwarna hijau kekuningan, kemudian hijau dan biasanya berubah menjadi kemerahan menjelang masa kepompong. Ulat dicirikan dengan adanya satu garis membujur di tengah punggung yang berwarna birukeunguan. Perilaku ulat ini sama dengan ulat S. asigna dan stadia berlangsung sekitar 50 hari dan juga terletak dipermukaan tanah sekitar piringan atau di bawah pangkal batang kelapa sawit.Stadia kepompong berkisar antara 17 – 27 hari. Ngengat jantan berukuran 35 mm dan yang betina sedikit lebih besar.Sayap depan berwarna coklat dengan garis-garis yang berwarna lebih gelap.Ngengat aktif pada senja dan malam hari, sedangkan pada siang hari hinggap dipelepah-pelepah tua atau pada tumpukan daun yang telah dibuang dengan posisi terbalik.
Gejala Serangan Ulat Api
Ulat muda biasanya bergerombol di sekitar tempat peletakkan telur danmengikis daun mulai dari permukaan bawah daun kelapa sawit sertameninggalkan epidermis daun bagian atas. Bekas serangan terlihat jelas pada helaian daun, sehingga akhirnya daun yang terserang berat akan mati kering seperti bekas terbakar.Mulai instar ke 3 biasanya ulat memakan semua helaian daun dan meninggalkan lidinya saja dan sering disebut gejala melidi. Ambang ekonomi dari hama ulat api untuk S. asigna dan S. nitens padatanaman kelapa sawit rata-rata 5 - 10 ekor perpelepah untuk tanaman yangberumur tujuh tahun ke atas dan lima ekor larva untuk tanaman yang lebih muda.
Pengendalian
Beberapa teknik pengendalian ulat api yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      pengendalian secara mekanik, yaitu pengutipan ulat ataupun pupa di lapangan kemudian dimusnahkan2
2.      pengendalian secara hayati, dilakukan dengan penggunaan parasitoid larva seperti Trichogramma sp dan predator berupa Eocanthecona sp,
3.      Penggunaan virus seperti Granulosis Baculoviruses, MNPV (Multiple NucleoPolyhedro Virus) dan jamur Bacillus thuringiensis
4.      Penggunaan insektisida, dilakukan dengan Penyemprotan (spraying) dilakukan pada tanaman yang berumur 2,5 tahundengan menggunakan penyemprotan tangan, sedangkan tanaman yang berumur lebih dari 5 tahun penyemprotan dilakukan dengan mesinpenyemprot
5.      Penyemprotan udara dilakukan apabila dalam suatu keadaan tertentu luas arealyang terserang sudah meluas yang meliputi daerah dengan berbagai topografi.
6.      Penggunaan feromon seks sintetik efektif untuk merangkap ngengat jantan ulat api S. asigna selama 45 hari.
7.      penyemprotan racun kontak, misalnya Adapun cara pengendalian ulat api secara pengendalian ulat api secara alami adalah :
-          Melakukan sensus secara rutin untuk mengetahui stadia dari ulat api tersebut.
Hal ini merupakan kunci keberhasilan dari pengendalian ulat api karena pada saat ini kita akan mengetahui seberapa besar populasi ulat api dan seberapa efektif tindakan yang sudah kita lakukan.
Cara melakukannya adalah dengan membuat titik sensus minimal 5% darit total areal tanaman kelapa sawit tetapi akan lebih baik jika persentase ini dapat kita tingkatkan. pada saat sansus yang dilakukan adalah mengambil daun yang paling tengah dalam hal ini sering di sebit dengan daun nomor 16 karena biasanya serangan dimulai dari daun ini. selain ulat kita juga harus mencari apakah ada atau tidak kokon yang terdapat di piringan karena  kita ketahui bahwa ulat api memiliki siklus hidup menuju imago dengan bentuk kokon
-          Melakukan penanaman tanaman inang
Tanaman inang adalah tanaman yang menghasilkan madu . Tujuan dari penanaan ini adalah :
                  a. Tempat predator ulat api yang dewasa untuk mendapatkan makanan
      b. Untuk memperindah areal kebunHostation 25 ULV, Sevin 85 ES, Dursban
         20 EC dengan konsentrasi 0,2 – 0,3 %.



Penggerek tongkol jagung ( Helicoverpa armigera)
Taksonomi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Family             : Noctuidae
Genus              : Helicoverpa
Spesies            : Helicoverpa armigera

Biologi
Siklus hidup H. armigera dan H. punctigera mengambil 4-6 minggu dari telur hingga dewasa di musim panas, dan 8-12 minggu pada musim semi atau musim gugur. Para Helicoverpa tahap siklus hidup yang telur, larva, pupa dan dewasa (ngengat).
Lebar sayap ngengat dewasa adalah 30-45 mm, sedangkan forewings yang kecoklatan atau coklat kemerahan (betina) atau kusam kehijauan sampai coklat kuning atau cahaya (jantan); hindwings pucat dengan margin, yang luas luar gelap Helicoverpa armigera ngengat memiliki patch pucat. dekat pusat wilayah ini gelap.
Ngengat memakan nektar. Mereka hidup untuk sekitar 10 hari selama waktu perempuan berbaring 1000 telur. Telur diletakkan secara tunggal, atau dalam kelompok, pada daun, kuncup bunga, bunga dan buah-buahan berkembang, dan terkadang pada batang dan titik tumbuh. Ngengat cenderung bertelur di ketiga atas tanaman yang sehat dan penuh semangat tumbuh terminal.
Telur
Subur telur menetas dalam waktu sekitar tiga hari selama cuaca hangat (25 ° C rata-rata) dan 6-10 hari dalam kondisi dingin. Ketika mereka mengembangkan, telur berubah dari putih ke coklat sampai tahap hitam-kepala sebelum memproduksi seekor Hatchling. Tidak semua telur subur. Faktor fisik secara dramatis dapat mempengaruhi kelangsungan hidup telur dan larva pendirian. Hujan deras dan angin dapat memaksa telur dari daun. Suhu tinggi dapat mendehidrasi dan membunuh telur dan larva sangat kecil.
Larva
Larva menetas (neonatus) makan melalui cangkang telur untuk membuat lubang keluar dan muncul. Larva neonatus adalah 1-1,5 mm, dengan kepala coklat-hitam dan putih atau kekuningan-putih, gelap-melihat tubuh. Larva merumput di daun muda dan lembut selama 1-2 hari, dan kemudian pindah ke makan tunas, bunga atau polong muda, kuntum-kuntum atau buah-buahan. Larva berkembang melalui enam tahap pertumbuhan (instar) dan menjadi dewasa dalam 2-3 minggu di musim panas atau 4-6 minggu pada musim semi atau musim gugur. Pembangunan lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi, hingga 38 ° C, setelah pembangunan melambat. Aktivitas larva dan berhenti makan ketika suhu jatuh di bawah 12 ° C.
Umur larva yang ditampilkan adalah untuk larva dipelihara pada 25 ° C hanya konstan. Tingkat perkembangan larva pada 25 ° C adalah sama dengan tingkat pertumbuhan maksimum larva di lapangan selama musim panas. Sembilan puluh persen dari makan semua (dan karena itu kerusakan) oleh Helicoverpa dilakukan oleh larva instar ketiga dari (larva menengah kecil yang 8-13 mm) dan seterusnya. Larva Helicoverpa besar (lebih dari 24 mm) adalah tahap yang paling merusak, karena larva mengkonsumsi sekitar 50% dari diet mereka secara keseluruhan di instar kelima dan keenam. Ini menyoroti pentingnya mengendalikan larva Helicoverpa sementara mereka masih sangat kecil untuk kecil (kurang dari 7 mm). Dewasa larva instar keenam adalah 40-50 mm panjang dengan variasi dalam warna dan tanda-tanda.
Kepompong
Setelah larva dewasa, mereka merangkak ke dasar terowongan, pabrik hingga 10 cm ke dalam tanah dan membentuk ruang di mana mereka menjadi kepompong. Kepompong biasanya akan mengembangkan untuk menghasilkan ngengat dalam 10-16 hari. Ngengat itu muncul, feed, pasangan dan kemudian siap untuk memulai siklus peletakan telur dan perkembangan larva. Seperti dengan semua perkembangan serangga, durasi pupation ditentukan oleh suhu, mengambil sekitar dua minggu di musim panas dan sampai enam minggu di musim semi dan musim gugur. Namun, kepompong diapausing memakan waktu lebih lama untuk muncul.
Pengendalian
Helicoverpa efektif dengan insektisida tergantung pada mengetahui spesies yang hadir dalam tanaman karena H. punctigera dan H. armigera memiliki perbedaan kerentanan terhadap insektisida banyak.
Helicoverpa punctigera mudah dibunuh oleh semua produk yang terdaftar, termasuk produk yang H. armigera resisten (piretroid sintetis misalnya). Karena H. punctigera ngengat bermigrasi setiap tahun ke wilayah timur Australia tanam, mereka kehilangan perlawanan mereka mengembangkan sebagai akibat dari paparan terhadap insektisida pada tanaman. Sebaliknya, H. armigera populasi cenderung tetap lokal sehingga mereka mempertahankan ketahanan terhadap insektisida dari musim ke musim.
Kebutuhan untuk meminimalkan resistensi insektisida pada populasi lokal telah mendorong pengembangan Insektisida Sistem Strategi Perlawanan Pertanian Manajemen (FS-IRMS). FS-IRMS mengintegrasikan kebutuhan petani gandum ke dalam IRMS yang dikembangkan untuk industri kapas. FS-IRMS bertujuan untuk memberikan strategi yang membantu petani bekerja keluar yang dapat mereka gunakan insektisida tanpa memberikan kontribusi terhadap resistensi insektisida. Kepatuhan dengan strategi ini bersifat sukarela, namun tidak memberikan semua industri kesempatan terbaik untuk mempertahankan suite insektisida yang efektif untuk kontrol H. armigera.
Insektisida tidak satu-satunya pilihan untuk mengendalikan dan mengelola Helicoverpa.
1.      Penghilang kepompong tetap merupakan, yang penting non-kimia pilihan untuk mengurangi ukuran populasi musim dingin, tungau. Penghilang kepompong juga mengurangi akumulasi insektisida tahan individu dari musim ke musim.
2.      Manajemen gulma di sekitar tanaman dapat mencegah penumpukan Helicoverpa dan hama serangga lainnya.
3.      Non-insektisida metode pengendalian termasuk tanaman perangkap musim semi (daerah-lebar manajemen alat untuk mengurangi ukuran populasi Helicoverpa keseluruhan) dan, sebagaimana dibahas, dengan menggunakan musuh alami Helicoverpa itu (predator, parasitoid dan patogen).




























IV. KESIMPULAN


Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain adalah :
1.      Pengendalian hama dapat dilakukan secara kultur teknik, kimia, dan hayati
2.      Hama –hama yang bermetamorfosis secara holometabola adalah lalat penggorok daun, Ulat grayak, dan Kumbang bubuk
3.      Hama-hama yang bermatamorfosis secara paurometabola adalah kutu tempurung kopi dan penggerek batang kopi
4.      Penggerek batang kopi (Xylosandrus sp), satu family dengan Hypothenemus hampeii
5.      Family Noctuidae merupakan hama yang aktif menyerang pada malam hari











DAFTAR PUSTAKA



Harjaka, T., dan S. Sudjono. 2005. Petunjuk Praktikum Dasar-dasar Ilmu Hama Tanaman.
Jurusan Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta
Matnawy, H. 1989. Perlindungan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.
Untung, K. 2006. Hand Out Kuliah Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Fakultas
Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Mudjiono, G., B. T. Rahardjo., T. Himawan. 1991. Hama-hama Penting Tanaman Pangan.
Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.
Triharso. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta
Wagiman, F. X. 2003. Hama Tanaman: Cemiri Morfologi, Biologi dan Gejala Serangan.
Jurusan Hama Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta
Wardoyo,S. 1997. Aspek Pestisida di Indonesia. Edisi ketiga. Pusat penelitian pertanian.
Bogor.










LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar