Rabu, 10 Oktober 2012

laporan 2 tanaman perkebunan


 PERKEBUNAN KAKAO
( Laporan Hasil Survey Produksi Tanaman Perkebunan)


Disusun
Oleh kelompok 6
Kelas A

Bagja Rudhia Ulil Albab                              0914013012
Intan Purnama Nursadi                               0914013030
Rismayanti                                                     0914013047
Topan Ramadhan Igunsyah                                    0914013054
Wanty Pristiarini                                           0914013056
                                        

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011
I.                   PENDAHULUAN



A.      Latar belakang

Perkebunan di negara kita sangat berperan penting baik itu di bidang ekonomi maupun sosial karena dapat menghasilkan devisa yang cukup besar untuk membangun bangsa dan negara ini. Dari perkebunan dapat di hasilkan komoditi ekspor terbesar setelah sub sektor pertambangan minyak dan gas serta kehutanan, kita tidak dapat mengabaikan perananya di dalam negara karena selain merupakan sumber energi bagi industri pengolahan hasil perkebunan, juga dapat menyerap banyak tenaga kerja karena pada dasarnya yang dikelola adalah jenis tanaman yang sulit digarap secara mekanis terutama tanaman keras/tahunan. Hal ini memberi dampak yang positif bagi pelestarian alam sekitar (pengawetan tanah dan air) yang dapat menciptakan kehidupan sehat dan kawasan yang luas yang sangat penting.
Pada kesempatan kali ini, perkebunan yang disurvey oleh kelompok kami adalah perkebunan kakao. Perkebunan kakao di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir dan pada tahun 2007 areal perkebunan kakao di Indonesia tercatat seluas 992.448 ha. Perkebunan kakao tersebut sebagian besar (89,45%)dikelola oleh rakyat dan selebihnya (5,04%) perkebunan besar negara serta (5,51%)perkebunan besar swasta. Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia di mana bila dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao berasal dari Ghana dan keunggulan kakao Indonesia tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending.


Kakao memiliki klasifikasi ilmiah seperti yang tertera di bawah ini :
Ordo                : Malvales
Famili              : Sterculiaceae
Genus              : Theobroma
Spesies            : Theobroma cacao L.
Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon, di alam dapat mencapai ketinggian 10m. Meskipun demikian, dalam pembudidayaan tingginya dibuat tidak lebih dari 5m tetapi dengan tajuk menyamping yang meluas. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak cabang produktif.
Bunga kakao, sebagaimana anggota Sterculiaceae lainnya, tumbuh langsung dari batang (cauliflorous). Bunga sempurna berukuran kecil (diameter maksimum 3cm), tunggal, namun nampak terangkai karena sering sejumlah bunga muncul dari satu titik tunas.
Penyerbukan bunga dilakukan oleh serangga (terutama lalat kecil (midge) Forcipomyia, semut bersayap, afid, dan beberapa lebah Trigona) yang biasanya terjadi pada malam hari1. Bunga siap diserbuki dalam jangka waktu beberapa hari.
Kakao secara umum adalah tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki sistem inkompatibilitas-sendiri (lihat penyerbukan). Walaupun demikian, beberapa varietas kakao mampu melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Buah tumbuh dari bunga yang diserbuki. Ukuran buah jauh lebih besar dari bunganya, dan berbentuk bulat hingga memanjang. Buah terdiri dari 5 daun buah dan memiliki ruang dan di dalamnya terdapat biji. Warna buah berubah-ubah Sewaktu muda berwarna hijau hingga ungu. Apabila masak kulit luar buah biasanya berwarna kuning.

Biji terangkai pada plasenta yang tumbuh dari pangkal buah, di bagian dalam. Biji dilindungi oleh salut biji (aril) lunak berwarna putih. Dalam istilah pertanian disebut pulp. Endospermia biji mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi. Dalam pengolahan pascapanen, pulp difermentasi selama tiga hari lalu biji dikeringkan di bawah sinar matahari.
Dalam melakukan survey ini, kami memilih perkebunan rakyat sebagai sumber informasi yang akan kami jadikan sebagai panutan dalam pembuatan laporan. Dimana perkebunan rakyat adalah usaha tanaman perkebunan yang dimiliki dan atau diselenggarakan atau dikelola oleh perorangan/tidak berbadan hukum, dengan luasan maksimal 25 hektar atau pengelola tanaman perkebunan yang mempunyai jumlah pohon yang dipelihara lebih dari batas minimum asaha(BMU). Berdasarkan besar kecilnya, usaha perkebunan rakyat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu pengelola tanaman perkebunan dan pemelihara tanaman perkebunan. Perkebunan rakyat mempunyai peran yang strategis dalam meningkatkan peran sub sektor perkebunan ke depan , mengingat pangsa perkebunan rakyat menempati posisi yang paling besar baik dilihat dari luas areal maupun produksinya. Rendahnya produktivitas ini disebabkan kurangnya permodalan dan penguasaan teknologi , sehingga perkebunan rakyat umumnya ditandai dengan jarak tanam yang kurang teratur , tidak ada perencanaan penggantian tanaman yang teratur sesuai umur tanaman dan sebagainya.
B.       Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya survey ini, antara lain :
1.      Mengetahui sejarah terbentuknya perkebunan kakao
2.      Mengetahui kondisi lingkungan perkebunan kakao seperti tanah dan iklim
3.      Mengetahui teknik budidaya tanaman kakao
4.      Mengetahui cara pemeliharaan tanaman kakao
5.      Mengetahui cara panen, pasca panen, dan pemasaran tanaman hasil perkebunan kakao
6.      Mengetahui tata niaga dari perkebunan kakao

II.                TINJAUAN PUSTAKA

Lahan perkebunan adalah lahan usaha pertanian yang luas, biasanya terletak di daerah tropis atau subtropis, yang digunakan untuk menghasilkan komoditi perdagangan (pertanian) dalam skala besar dan dipasarkan ke tempat yang jauh,bukan untuk konsumsi lokal. Perkebunan dapat ditanami oleh tanaman keras/industriseperti kakao, kelapa, dan teh atau tanaman hortikultura seperti pisang, anggur, atau anggrek. Dalam pengertian bahasa Inggris, "perkebunan" dapat mencakup plantation dan orchard. Ukuran luas perkebunan sangat relatif dan tergantung ukuran volume komoditi yang dipasarkannya. Namun demikian, suatu perkebunan memerlukan suatu luas minimum untuk menjaga keuntungan melalui sistem produksi yang diterapkannya. Selain itu, perkebunan selalu menerapkan cara monokultur, paling tidak untuk setiap blok yang ada di dalamnya. Penciri lainnya, walaupun tidak selalu demikian, adalah terdapat instalasi pengolahan atau pengemasan terhadap komoditi yang dipanen di lahan perkebunan itu, sebelum produknya dikirim ke pembeli(Wikipedia, 2010).
Perkebunan didefenisikan sebagai segala bentuk kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah atau media tumbuh lainnya dalam ekosistim yang sesuai;termasuk mengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut denganbantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan dan manajemen untukmewujudkan kesejahteraan bagi pekebun dan masyarakat (Amanat UU Nomor 18 tahun 2004 tentang Perkebunan).
Klasifikasi Perkebunan
1. Perkebunan rakyat, yaitu suatu usaha budidaya tanaman yang dilakukan oleh rakyat yang hasilnya sebagian besar untuk dijual dengan area pengusahaannya dalam skala yang terbatas luasnya. Perkebunan rakyat terdiri dari kelapa sawit,

karet, kopi arabika, kopi arabusta, kelapa, coklat, cengkeh, kemenyan,kulit manis, nilam, tembakau, kemiri, tebu, pala, lada, kapuk, gambir, the,aren, pinang, vanili, jaahe, kapulaga, jambu mente, dan sereh wangi.
2. Perkebunan besar, yaitu suatu usaha budidaya tanaman yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau swasta yang hasilnya seluruhnya untuk dijual dengan areal pengusahaannya sangat luas. Perkebunaan besar terdiri dari kelapa sawit, karet, coklat, teh, tembakau, kopi dan tebu.
3. Perkebunan perusahaan inti rakyat (PIR), yaitu suatu usaha budidaya tanaman,dimana perusahaan besar (pemerintah atau swasta) bertindak sebagai intisedangkan rakyat merupakan plasma.
4. Perkebunan unit pelaksana proyek (perkebunan Pola UPP) yaitu perkebunan yang dalam pembinaannya dilakukan oleh pemerintah, sedangkan pengusahaannya tetap dilakukan oleh rakyat.
Kakao (Theobroma cacao) berasal dari Benua Amerika khususnya Negarabagian yang mempunyai iklim tropis. Sangat sulit untuk mengetahui Negara bagianmana tepatnya tanaman ini berasal, karena tanaman ini telah tersebar secara luassemenjak penduduk daerah itu masih hidup mengembara. Tanaman ini mulai masukke Indonesia sekitar tahun 1560 yang dibawa oleh orang Spanyol melalui Sulawesidan kakao mulai dibudidayakan secara luas sejak tahun 1970 (Darwis, 2007).
Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannyac ukup penting bagi perkonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa Negara. Di samping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Padatahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan  Sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar beradadi Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ketiga sub sector perkebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai US $701juta (Tino, 2006).

Perkebunan kakao di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir dan pada tahun 2007 areal perkebunan kakao di Indonesia tercatat seluas 992.448 ha. Perkebunan kakao tersebut sebagian besar (89,45%)dikelola oleh rakyat dan selebihnya (5,04%) perkebunan besar negara serta (5,51%)perkebunan besar swasta. Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakodunia di mana bila dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao berasal dari Ghana dan keunggulan kakao Indonesia tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending (Darwis, 2007)

III.             HASIL SURVEY DAN PEMBAHASAN


A.           Waktu dan tempat
Adapun waktu dan pelaksanaan dilakukannya survey ini, antara lain:
Hari/tanggal                : Sabtu, 29 Oktober 2011
Pukul                           : 07.00 – 19.00 wib
Tempat                        : Dusun Suka Menanti, desa penyandingan, kecamatan     
  Punduh Pedada, Pesawaran
Jenis perkebunan         : Perkebunan rakyat
Komoditas                  : Kakao
B.       Hasil survey
Dalam survey ini kami mengunjungi perkebunan rakyat di Pesawaran, tepatnya di desa penyandingan. Komoditas yang ditanam di perkebunan ini adalah kakao.
Dalam kegiatan survey ini, kami mewawancarai 3 petani perkebunan kakao. Tujuannya adalah untuk membandingkan bagaimana sejarah terbentuknya perkebunan tersebut, lingkungan perkebunan, teknik budidaya, pemeliharaan tanaman, hingga panen dan pasca panen serta pemasarannya.



Berikut hasil survey yang kami peroleh, antara lain :
1. Perkebunan I
1.1 Sejarah
Pada perkebunan I dikelola oleh Bapak Abdul Karim, Beliau menceritakan tentang awal pembukaan lahan hingga pemasaran. Pendidikan terakhir beliau adalah SD dengan mata pencaharian sebagai petani kakao. Waktu kerja Beliau pada pukul 07.00-11.00  dan 13.00- 16.00 wib.
Luas areal perkebunan kakao milik pak Karim adalah 2 hektar, yang ditanam dengan 2 tahap yaitu tahap 1 pada tahun 1997, dan tahap 2 pada tahun 2007.
Sebelum dibuka lahan untuk perkebunan kakao, lahan ini merupakan tanah adat dan berupa kebun belukar yang dibeli dari Pak M. Soleh.
Pembukaan lahan dilakukan secara manual yaitu dengan cara menebas belukar-belukar,  dikumpulkan dan setelah itu dibakar. Proses pembukaan lahan menghabiskan waktu sekitar 2 bulan. Setelah pembakaran, 2-3 bulan baru mulai ditanam.
Jarak antar perkebunan 1 dengan perkebunan lainnnya dipisahkan oleh pemisah yaitu:
Sebelah barat   : Dipisahkan oleh siring kecil
Sebelah timur  : Dipisahkan oleh tanaman jarak
Sebelah selatan: Dipisahkan oleh sungai
Sebelah utara   : Dipisahkan oleh tanaman jarak
Dalam 1 hektar dihasilkan 2 ton 2 kw per tahun dimulai dari awal tahun sampai akhir tahun. 1 kg buah kakao dijual Rp 20.000, per minggu dapat menjual sekitar 30 kg.

1.2 Lingkungan perkebunan
Lingkungan perkebunan dipengaruhi oleh faktor tanah dan iklim. Faktor tanah mencakup tinggi tempat dari permukaan laut, tinggi kemiringan lahan, dan tebal lapisan tanah. Faktor iklim mencakup curah hujan, suhu, dan kelembaban. Namun ketika kami menanyakan hal mengenai faktor tanah dan iklim tersebut, Beliau kurang memahami faktor-faktor tersebut, sehingga kami butuh pembanding dan akan membandingkannya dengan petani lainnya.
1.3 Teknik budidaya
Komoditas yang diusahakan pada perkebunan ini adalah tanaman kakao dengan varietas lokal. Awal penanaman dilakukan pada bulan ke 10 atau bulan ke 11. 3 bulan sebelum tanam dibuat lubang tanam dengan kedalaman 40 cm – 50 cm dan lebar 50 cm x 50 cm. Pada perkebunan ini, Beliau tidak menggunakan LCC atau tanaman penutup tanah.
Pada perkebunan ini terdapat pohon pelindung yaitu pohon durian dan pohon petai. Penanaman pohon pelindung bersamaan dengan penanaman kakao dengan jarak pohon pelindung 1 dengan lainnya sekitar 20 meter.
Selain pohon pelindung, terdapat pula tanaman sela seperti pala dan papaya yang baru berusia 1 tahun.
1.4 Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman meliputi mencakup tentang pemupukan, irigasi, pengendalian gulma, dan pengendalian hama penyakit.
-Pupuk yang digunakan dalam pemeliharaan tanaman kakao adalah pupuk organik yang diberikan 1 tahun sekali pada bagian ujung mahkota daun untuk lahan miring dan melingkar di sekitar pohon untuk lahan yang datar. Pupuk organik tersebut terbuat dari kotoran kambing dan campuran abu. Untuk tanaman kakao yang berumur 3 tahun, dosis pupuk yang diberikan adalah 0,5 kg per tanaman. Namun karena yang digunakan adalah pupuk organik, maka semakin banyak diberikan, maka akan semakin baik untuk pertumbuhan tanaman kakao.

Selain pupuk organik dengan bahan kotoran kambing dan abu saja, terdapat pula pupuk rampos, dengan komposisi 4 karung kulit cokelat bekas, urea 1 liter bisa 2,5 kg, dan NPK 2,5 kg.
-Perkebunan ini tidak menerapkan sistem irigasi, melainkan hanya mengandalkan hujan. Bila tidak hujan, produksi tanaman kakao akan menurun.
-Pengendalian gulma dilakukan dengan cara mekanik dan kimia. Pengendalian secara mekanik dilakukan dengan cara mengkoret, dan pengendalian secara kimia dengan menggunakan herbisida jenis Gramason.
Pengendalian gulma dengan cara mekanik, dilakukan 3 bulan sekali, sedangkan pengendalian secara kimia dengan menggunakan herbisida, dilakukan penyemprotan 1 tahun hanya sekali.
Jika tidak mampu mengendalikan gulma sendiri, maka Beliau mengupah orang untuk menyiangi gulma tersebut dengan menggunakan koret dengan upah Rp 1 juta untuk 2 hektar untuk sekali kerja saja.
-Pengendalian hama penyakit menggunakan akrodik dan nurbesan. Pengaplikasiaannya disemprotkan kebatangnya dan pentil buah atau dipupuk dicampur dengan urea. 1 akrodik dicampur urea dengan dosis 50 kg. Pengaplikasian obatnya 6 sendok makan per batang. Untuk nurbesan, harga 1 rakitnya bisa mencapai Rp 500 ribu. Sehingga beliau hanya menggunakan akrodik untuk mengendalikan hama penyakitnya.
1.5 Panen, pascapanen, dan pemasaran
Kriteria buah kakao yang sudah bisa dipanen adalah buahnya berwarna kekuning-kuningan. Dipanen dengan menggunakan genter, dengan frekuensi panen nya tiap minggu.
Setelah dilakukan pemanenan, buah kakao tersebut difermentasi selama 6 hari, setelah itu dijemur dan dijual ke warung-warung atau penampung buah kakao untuk di olah.

2. Perkebunan II
2.1 Sejarah
Perkebunan ini milik masyarakat pribumi berawal dari meminta warga untuk menggarap lahan dengan sistem bagi lahan. Proses pembayaran kebunnya dilakukan secara berangsur dari hasil panen. Sebelum ditanami kakao, perkebunan ini ditanami kopi arabika, kopi yang mati disulam dengan tanama kakao. Luas areal perkebunan adalah 1 hektar . Jarak dari kampung ke lahan sekitar 500 km. Jenis perkebunannya adalah perkebunan rakyat. Pemilik perkebunan ini adalah Marsino, dengan pendidikan terakhir adalah SR ( Sekolah Rakyat) dengan penghasilah 2 kw per tahun.
Perbatasan dengan lahan milik orang lain ditanami dengan tanaman jarak. Sebelah utara dibatasi dengan sungai dan sebelah barat dibatasi dengan siring.
2.2 Lingkungan perkebunan
Lingkungan perkebunan dipengaruhi oleh faktor tanah dan iklim. Faktor tanah mencakup tinggi tempat dari permukaan laut, tinggi kemiringan lahan, dan tebal lapisan tanah. Faktor iklim mencakup curah hujan, suhu, dan kelembaban. Namun beliau hanya mengetahui ketinggian lahan dari permukaan lautnya saja yaitu sekitar 80 mdpl.
2.3 Teknik budidaya
Komoditas yang diusahakan pada perkebunan ini adalah tanaman kakao dengan jenis lokal ICS 60 dan ICS 13 varietas unggul yaitu Sulawesi 1 dan Sulawesi 2. Menurut aturan dari dinas, untuk pengaturan jarak tanamnya seharusnya 3m x 3m dan 3m x 4m untuk lahan miring, namun harus juga menyesuaikan juga dengan keadaan lahan. Untuk perkebunan di sini tidak menggunakan jarak tanam. Komoditas yang ditanam selain tanaman kakao adalah kopi robusta. Pada perkebunan ini, Beliau tidak menggunakan LCC atau tanaman penutup tanah. Beliau hanya memanfaatkan pohon durian, pohon petai, johar, dan dadap sebasebagai pohon pelindung.  Selain pohon pelindung, terdapat pula tanaman selingan  seperti pala dan cengkeh.

Proses pembibitan :
1.      Diawali dengan pemilihan pohon yang terbesar dan buah kakao yang terbesar
2.      Pisahkan antara ujung dan pangkal serta ambil biji pada bagian tengahnya, karena menurut masyaraka sekitar, biji pada bagian tengah adalah biji yang terbagus untuk dijadikan benih
3.      Cara penyemaian dilakukan pada suatu tempat sampai ada calon akar
4.      Disiram air dan dipindahkan ke polybag
5.      Ditanam ke lahan pada umur 6 bulan dan daun minimal 5 atau 6 helai sudah ditranplanting, karena dikhawatirkan bila daun dibawah 5 sudah ditransplanting ke lahan tidak tahan dengan panas.
Proses pembibitan juga dapat dilakukan dengan menggunakan serabut kelapa sampai muncul calon akar dan langsung ditanam tidak perlu dipindah ke polybag.
2.4 Pemeliharaan tanaman
-Pupuk yang digunakan dalam pemeliharaan tanaman kakao adalah pupuk kimia seperti NPK, Urea, KCl, dan TSP. Pupuk diberikan hanya sekali dalam setahun, bagi yang mampu pemupukan dilakukan 3 kali dalam setahun. Namun pada umumnya masyarakat disini melakukan pemupukan hanya sekali dalam setahun.
Bila menggunakan pupuk kompos diaplikasikan pada jarak 50 atau 60 cm dari pohon untuk lahan datar, sedangkan untuk lahan miring cara  pemberian pupuknya adalah pada bagian atasnya membentuk setengah lingkaran. Semakin banyak pupuk kompos yang diberikan, maka semakin bagus bagi tanaman kakao. Bahan pembuatan pupuk kompos adalah sampah bekas kulit kakao dan kotoran kambing sebagai campurannya.
-Sistem irigasi pada perkebunan ini adalah dengan mengendalikan air sungai untuk lahan bagian bawah, bak tampungan dengan menampung air hujan untuk lahan bagian atas. Pada musim kemarau sistem irigasinya juga menggunakan bak penampungan.

-Pengendalian gulma pada umumnya menggunakan herbisida dengan merek dagang sidolaris, minimal setahun dilakukan 2 kali dengan dosis 20-50cc per satu tank. 1 Liter sidolaris digunakan untuk 1 hektar dan diaplikasikan pada awal musim hujan. Dalam mengendalikan gulma, setiap minggu ada kegiatan pengendalian gulma oleh setiap anggota secara bergiliran.
Pengaplikasian herbisida ada 2  yaitu:
1.      Untuk rumput yang baru tumbuh menggunakan gramason dengan system kontak dan disemprotkan pada pagi, maka 1 -2 jam langsung bereaksi.
2.      Untuk rumput yang yang sudah tua menggunakan sidolaris
-Pengendalian hama penyakit
Hama yang menyerang tanaman kakao adalah tupai, monyet putih, dan tikus kecil. Sistem makan tupai adalah memakan di bagian bawah buah yang sudah matang, sedangkan tikus memakan di bagian pangkal buah yang masih muda. Cara pengendalian tupai dan tikus adalah dengan menggunakan perangkap dan senapan angin.
Penyakit yang menyerang tanaman kakao adalah busuk buah, brekele dan Helopeltis.
2.5 Panen, pascapanen, dan pemasaran
Ciri-ciri buah kakao yang siap dipanen adalah warna buah yang sudah menguning secara merata. Kakao yang sudah siap dipanen, diambil dengan menggunakan sengget bila ukuran pohonnya tinggi dan dapat juga menggunakan alat pangkas. Panen dilakukan seminggu sekali.
Setelah buah kakao dipanen, buah kakao tersebut ditumpuk kemudian digencat dengan menggunakan batu hingga kering. Karena masyarakat sekitar tidak menjual buah kakao dalam bentuk basah, dan harus dalam bentuk kering. Tujuannya agar terhindar dari pencurian. Setelah buah kakao kering, tujuan pemasarannya adalah di warung.

3. Perkebunan III
3.1 Sejarah
Pada perkebunan III dikelola oleh Bapak Sigit, Beliau menceritakan tentang awal pembukaan lahan hingga pemasaran. Pendidikan terakhir beliau adalah SMP dengan mata pencaharian sebagai petani kakao, penghasilan beliau pertahun adalah 2 hektar mencapai 4 ton lebih.
Luas areal perkebunan kakao milik pak Sigit adalah 2 hektar yang berbeda areal, lahan ini dibeli dari orang pribumi dari tangan kedua yang bernama Armalia. Pada mulanya lahan ini merupakan kebun kopi yang bentuknya sudah rusak dan masih berupa belukar.
Pembukaan lahan dilakukan secara manual yaitu dengan cara menebang habis secara manual dan dibakar dengan waktu lama pembukaan sekitar 2 bulan. Setelah dilakukan pembukaan lahan, jarak dari pembukaan lahan hingga ditanam adalah sekitar 4 bulan. Lahan ini dilakukan dengan system TOT ( Tanpa Olah Tanah) dan baru ditanam dengan kakao. Setelah lahan bersih diukur diameternya sekitar 3 m2  dengan jarak tanam 3 m x 3 m diukur dengan menggunakan tali untuk menyamakan barisan. Pada tahun 2003 mulai ditanam kakao.
Jarak dari rumah ke lahan sekitar 200 km.
Jarak antar perkebunan 1 dengan perkebunan lainnnya dipisahkan oleh pemisah yaitu:
Sebelah timur  : Dipisahkan oleh siring
3.2 Lingkungan perkebunan
Lingkungan perkebunan dipengaruhi oleh faktor tanah dan iklim. Faktor tanah mencakup tinggi tempat dari permukaan laut, tinggi kemiringan lahan, dan tebal lapisan tanah. Faktor iklim mencakup curah hujan, suhu, dan kelembaban. Curah hujan di daerah ini sedikit, dan suhu sekitar 350C. Namun ketika kami menanyakan hal mengenai faktor tanah tersebut, Beliau kurang memahami faktor-faktor tersebut, sehingga kami butuh pembanding dan akan membandingkannya dengan petani lainnya.
3.3 Teknik budidaya
Komoditas yang diusahakan pada perkebunan ini adalah tanaman kakao dengan varietas lokal. Pada proses pembibitan, diambil batang yang paling bagus di bagian batang induk karena varietasnya bagus dan buahnya besar. Setelah diambil dari batang induk, langsung banting untuk dibelah dan hindarkan pembelahan dengan menggunakan pisau, hal ini bertujuan agar benih tidak ikut terpotong. Bibit yang digunakan adalah bibit yang berada di bagian tengah. Setelah itu sambil menyiapkan polybag , benih kakao disemai hingga akar keluar. Polybag yang bagus adalah polybag yang berisi tanah yang telah dijemur. Hal ini dikarenakan supaya bibit spora mati dan pada saat penanaman benar-benar siap.
Pada perkebunan ini terdapat pohon pelindung yaitu pohon sengon, Beliau memilih pohon sengon, karena kayu pohon sengon merupakan kayu produksi. Penanaman pohon pelindung bersamaan dengan penanaman kakao.
Selain pohon pelindung, terdapat pula tanaman sela seperti tanaman cengkeh dan pisang, penanamannya dilakukan 4 tahun.
3.4 Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman meliputi mencakup tentang pemupukan, irigasi, pengendalian gulma, dan pengendalian hama penyakit.
-Pupuk yang digunakan dalam pemeliharaan tanaman kakao adalah pupuk kompos yang diberikan 1 tahun 2 kali, masing-masing 5 kg per batang, dan keseluruhannya terdapat 800 batang per hektar dan membutuhkan 4 ton per hektar pupuk kompos. Bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk kompos adalah kotoran kambing, serbuk gergaji, dan batang pisang yang sudah dicacah. Beliau menggunakan batang pisang yang sudah dicacah karena proses fermentasi kandungan airnya sudah banyak.

-Perkebunan ini tidak menerapkan sistem irigasi, melainkan hanya mengandalkan hujan.
-Pengendalian gulma dilakukan dengan cara disemprot dengan obat secara kontak agar tidak mempengaruhi tanaman. Racun kontak tergantung dari jenih atau tidaknya air yang digunakan. 1 Botol sekitar 250 cc, per tank nya sekitar 50 cc. Beliau menggunakan gramason untuk mengendalikan gulmanya.
-Pengendalian hama penyakit menggunakan akrodik dan nurbesan. Penyakit pada buah kakao ini, antara lain seperti kanker batang, busuk buah, helopelthis. Pengaplikasiaannya disemprotkan kebatangnya dan pentil buah atau dipupuk dicampur dengan urea. Jadwal pemupukan dengan menggunakan akrodik adalah 2 kali dalam setahun pada awal musim hujan.
3.5 Panen, pascapanen, dan pemasaran
Kriteria buah kakao yang sudah bisa dipanen adalah buahnya berwarna kekuning-kuningan, diukur dengan menggunakan tangan , apabila buah kakao di pukul dengan tangan, maka akan menghasilkan bunyi yang padat. Dipanen dengan menggunakan genter, dan jangan sampai batangnya menempel pada tangkainya, karena pada bagian tangkai terdapat calon buah. Setelah 10 hari dilakukan pemetikan buah kakao kembali, setelah dipetik, dikumpulkan di kebun, dikupas dan diolah dengan sistem oksalan/ fermentasi
Setelah dilakukan pemanenan, buah kakao tersebut difermentasi.
Keunggulan dari buah kakao yang di fermentasi adalah :
1.      Tahan disimpan
2.      Aroma khas tersendiri
3.      Biji dalamnya cokelat ( kualitas bagus) dan tidak berwarna hitam

Proses fermentasi :
1.      Buat kotak untu tempat fermentasi dengan ukuran tidak boleh kurang dari 40 cm dan harus diatas 40 cm
2.      Dinding pada kotak diberi lubang dengan jarak 10 cm dengan diameter 8mm. Melubangi kotak tersebut dengan menggunakan bor.
3.      Lembabkan karung goni, karena apabila kering maka karung goni tersebut akan berongga.
4.      Tutup kotak dengan karung goni
5.      Tutup kembali dengan terpal atau kantong-kantong lainnya yang menutupi karung goni tersebut.
6.      Setelah 2 hari di pindahkan ke kotak kosong
7.      Pada kotak diberi lubang agar air turun
8.      Setelah 2 hari dibalik lagi dan dilanjutkan dengan proses penjemuran
Resiko cokelat fermentasi :
1.      Apabila hari itu dijemur, maka harus ada panas. Bila tidak ada panas sebaiknya menggunakan oven. Namun apabila menggunakan oven, ditakutkan aroma dari biji akkao tersebut akan beraroma asam
2.      Biji yang harusnya cokelat menjadi berwarna hitam
Cara pemasaran buah kakao:
1.      Untuk tingkat desa mempunyai niai lebih sekitar Rp 3rb/kg daripada cokelat oksalan
2.      Pemasarannya dilakukan di PT. OLAM yang terletak di daerah Panjang

IV.             KESIMPULAN


Setelah melakukan survey, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain :
1.       Mata pencaharian di desa Penyandingan, rata-rata berprofesi sebagai petani kakao
2.      Luas kebun yang dimiliki oleh petani rakyat sekitar 1 hektar sampai 2 hektar
3.      Petani kakao di desa ini, rata-rata menggunakan varietas lokal
4.      Petani kakao di desa ini, tidak menggunakan LCC namun lebih memilih tanaman selingan yang dapat menghasilkan seperti tanaman pala dan cengkeh
5.      Pohon pelindung yang digunakan oleh masyarakat petani di desa ini, rata-rata menggunakan pohon duren dan pohon petai
6.      Pembatas antar kebun kakao dibatasi dengan tanaman jarak, siring, sungai dan jalan.
7.      Petani kakao di desa ini lebih menerapkan sistem tadah hujan dalam pemeliharaan tanaman kakao
8.      Petani kakao di desa ini menggunakan pupuk kompos dengan kotoran kambing sebagai bahan pencampurnya.
9.      Petani kakao di desa ini menggunakan Gramason untuk mengendalikan gulma
10.  Petani kakao di desa ini menggunakan akrodik untuk mengendalikan hama penyakit
11.  Penyakit pada tanaman kakao seperti kanker batang, brekele, busuk buah, dan helopelthis
12.  Hama pada tanaman kakao seperti tupai, tikus, dan monyet putih ( simpai).

13.  Rata-rata bagi petani yang kurang mampu, melakukan pemupukan hanya 1 kali sampai 2 kali dalam setahun
14.  Biji kakao yang baik untuk dijadikan benih adalah biji kakao yang terletak di tengah.
15.  Panen dilakukan dengan menggunakan sengget
16.  Pasca panen, biji-biji kakao tersebut difermentasikan.



















DAFTAR PUSTAKA


Darwis.V., Nur Khoiriyah. A. 2007. Perspektif Agribisnis Kakao di
SulawesiTenggara (Studi Kasus Kabupaten Kloaka).
Tino Mutiarawati. 2006. Kendala Peluang dalam Produksi Pertanian Organik di
Indonesia. Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2004 tentang Pemberdayaan
Usaha Perkebunan. Kementrian Perkebunan.
Wikipedia, 2010. Perkebunan. http://en.wikipedia.org. ( 28 Oktober 2011).




LAMPIRAN


Perkebunan 1
Keterangan :
Pemilik perkebunan mengenakan topi berwarna biru.
Nama pemilik perkebunan   : Abdul Karim
Pendidikan terakhir              : SD
Keterangan : proses pembibitan kakao
Keterangan :
Kebun kakao milik pak Abdul Karim
Keterangan :
Buah kakao yang dihasilkan dari perkebunan pak Abdul Karim
Keterangan :
Buah kakao yang dihasilkan dari perkebunan pak Abdul Karim
Keterangan :
Buah kakao yang dihasilkan dari perkebunan pak Abdul Karim
Keterangan :
Buah kakao yang dihasilkan dari perkebunan pak Abdul Karim
Keterangan :
Buah kakao yang dibelah
Keterangan :
Tanaman selingan : pala
Keterangan :
Tanaman selingan : papaya
Keterangan :
Kulit kakao bekas, yang digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk rampos
Keterangan :
Bunga pohon kakao yang nantinya akan menjadi buah kakao.
Keterangan :
Alat yang digunakan dalam memanen buah kakao yang biasa disebut dengan sengget.
Keterangan : Proses pengeringan biji kakao
Perkebunan 2
Keterangan :
Nama Pemilik perkebunan : Marsino
Pendidikan terakhir            : SR ( Sekolah Rakyat )
Keterangan : Foto kami bersama anak pak Marsino
Keterangan :
Perkebunan ini sudah memiliki kelompok tani
Keterangan :
Sertifikat SL-PHT Kakao Swadaya
Keterangan :
Sertifikat bahwa Beliau telah mengikuti pelatihan dinamika kelompok dalam sistem kebersamaan ekonomi



 
Keterangan :
Struktur dari kelompok tani
Keterangan :
Perbatasan antara kebun yang 1 dengan yang lainnya, dibatasi oleh adanya siring kecil.
Keterangan : Bekicot yang terdapat pada pohon kakao Keterangan : Pohon kakao yang diperbanyak dengan cara sambung pucuk.
Keterangan : Kakao yang diperbanyak dengan sambung pucuk dan telah menghasilkan daun muda.


 
Keterangan : Tanaman sela
Keterangan : Tanaman pelindung
Keterangan : Tanaman pelindung
Keterangan : Suasana di perkebunan milik Pak Marsino
Keterangan : Alat yang digunakan untuk memanen buah kakao
Keterangan : Pupuk yang digunakan dalam pemeliharaan kakao
Keterangan : Pemberitahuan mengenai cara pembuatan pupuk kompos dengan memperlihatkan foto-foto.
Keterangan : foto 1 yang diperlihatkan adalah  memasukkan bekas kulit kakao atau sisa-sisa daun ke dalam kotak besar yang telah disediakan
Keterangan : Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk kompos
Keterangan :
Masukkan Ragi kompos ke dalam Gembor
Keterangan : Masukkan urea dan NPK beserta Ragi kompos ke dalam kotak yang berisi kulit kakao bekas dan sisa-sisa daun.
Keterangan : Tutup kotak yang berisi campuran sisa-sisa daun, NPK, urea, dan ragi kompos dengan karung beras, dan diamkan hingga waktu tertentu.
Keterangan : Setelah ditutup dan didiamkan, bila dibuka, warnanya akan berubah menjadi hitam.
Keterangan : Proses pengeringan biji kakao
Perkebunan 3
Keterangan :
Nama pemilik perkebunan : Sigit
Pendidikan terakhir            : SMP
Keterangan : Kondisi perkebunan pak Sigit
Keterangan : Perbatasan antara kebun 1 dengan kebun lainnya dibatasi oleh jalan setapak
Keterangan : Pohon pelindung

Keterangan : Tanaman sela nya adalah pohon pisang
Keterangan : Tanaman pelindung yang baru berusia beberapa tahun
Keterangan : Pohon jarak sebagai batas antara kebun 1 dengan kebun lainnya
Keterangan : Buah kakao yang dihasilkan pada perkebunan milik pak Sigit
Keterangan : Gudang tempat penyimpanan biji kakao
Keterangan : Biji kakao yang disimpan di dalam karung beras
Keterangan : Biji kakao yang difermentasikan di dalam kotak
Keterangan : Lubang tempat keluarnya air dari sisa fermentasi biji kakao.

Keterangan : Rancangan khusus dalam pembuatan oven yang digunakan dalam proses pengeringan biji kakao setelah difermentasikan
Keterangan : lubang yang digunakan sebagai sumber pemerataan panas yang disebarkan ke seluruh biji kakao
Keterangan : Tempat meletakkan kayu sebagai sumber dari proses pembakaran
Keterangan : Tempat pembuangan uap api
Keterangan : Tempat peletakkan rak yang berisi biji kakao.
Keterangan : Tempat pembuatan rak yang nantinya sebagai tempat meletakkan biji kakao yang akan dikeringkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar