Rabu, 10 Oktober 2012

laporan 1 panen dan pasca panen


PENANGANAN PANEN DAN PASCAPANEN PADA BUAH TOMAT (Lycopersicon esculentum)
( Laporan Hasil Survey Panen dan Pascapanen)




Oleh Kelompok 6

Wanty pristiarini                   0914013056
Iriany Matande Makka        0914013031

Description: ANd9GcSZZfgtVTA-p8bd5J4hEmaJS9Hbnfhg2_idjtrDiLdamfr0CwQ&t=1&usg=__5Qxw9K0KqAAwrqacnaOAbfMCqzg=

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012
I.                  PENDAHULUAN



A.      Latar belakang

Masalah penanganan produk hortikultura setelah dipanen (pasca panen) sampai saat ini masih mejadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang serius, baik dikalangan petani, pedagang, maupun dikalangan konsumen sekalipun. Walau hasil yang diperoleh petani mencapai hasil yang maksimal tetapi apabila penanganan setelah dipanen tidak mendapat perhatian maka hasil tersebut segera akan mengalami penurunan mutu atau kualitasnya. Seperti diketahui bahwa produk hortikultura relatif tidak tahan disimpan lama dibandingkan dengan produk pertanian yang lain.
Hal tersebutlah yang menjadi perhatian kita semua, bagaimana agar produk hortikultura yang telah dengan susah payah diupayakan agar hasil yang dapat di panen mencapai jumlah yang setinggi-tingginya dengan kualitas yang sebaik-baiknya dapat dipertahankan kesegarannya atau kualitasnya selama mungkin. Sehubungan dengan hal tersebut maka sangatlah perlu diketahui terlebih dahulu tentang macam-macam penyebab kerusakan pada produk hortikultura tersebut, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya terhadap penyebab kerusakannya.
Kerusakan yang mempengaruhi produk pascapanen dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kebutuhan pasar dan pembeli, penanaman yang baik, pemanenan dan penanganan selama di lapang, pengemasan dan pengepakan, pengangkutan, penanganan pemasaran, perlakuan terhadap produk pascapanen, penyimapanan atau pendinginan, pengetahuan tentang mudah rusaknya  produk

pascapanen, penanggulangan hama dan penyakit, serta penjualan ke konsumen, pengepul, atau agen.

B.       Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya survey ini, antara lain :
1.      Agar mahasiswa mengetahui tentang teknik penanganan panen dan pascapanen pada buah tomat
2.      Agar mahasiswa mengetahui tentang penyakit pascapanen pada buah tomat
3.      Agar mahasiswa mengetahui tentang pemasaran produk pascapanen pada buah tomat














II.               TINJAUAN PUTAKA



Tomat (Lycopersicon esculentum) termasuk dalam famili Solanaceae. Tomat varietas cerasiforme (Dun) Alef sering disebut tomat cherry yang didapati tumbuh liar di Ekuador dan Peru, dan telah menyebar luas di seluruh dunia, dan dibeberapa negara tropik menjadi berkembang secara alami (Harjadi, 1989).

Tomat cherry memiliki beberapa varietas diantaranya adalah Royal Red Cherry yang berdiameter 3,1 - 3.5 cm dan Short Red Cherry yang berdiameter 2 – 2,5 cm,
Oregon Cherry yang diameternya 2.5-3.5 cm dengan bobot 11-15 g, Golden Pearl yang bobotnya 8-10 g dan SeasonRed yang bobotnya 25 g diproduksi oleh Known You Seed di Taiwan (Cahyono,2008).

Tomat merupakan tanaman herba semusim berbentuk perdu atau semak. Tanaman ini diperbanyak dengan biji dan disemaikan terlebih dahulu. Penanaman dilakukan ketika tanaman berumur sekitar tiga minggu di persemaian.
(Nurtika dan Abidin, 1997).

Tomat dibudidayakan dalam bedengan dengan lebar 150-180 cm.Tomat yang dijual dalam bentuk segar ditanam menggunakan jarak tanam dalam baris 60-75 cm dan antar baris 120-150 cm sehingga populasinya 8. 000-14.000 tanaman/ha (Rubatzky dan Yamaguchi, 1999).

Tomat membutuhkan iklim yang kering dan dingin untuk pertumbuhannyaagar diperoleh produksi yang tinggi dan baik. Suhu optimal untuk pertumbuhan dan pembungaan tomat adalah 21-24 ºC dan suhu malam 18-22 ºC

(Peet dan Bartholemew, 1986).

Kematangan buah tomat dari tingkat kematangan masih muda sampai tua berturut-turut adalah hijau masak, pecah warna, kekuning-kuningan, merah
jambu, merah cerah, dan merah masak sempurna. Pada umumnya tomat yang sudah siap dipanen pertama pada umur ± 75 hari setelah pindah tanam atau ± 3 bulan setelah menyebar benih. Saat pemetikan buah yang tepat disesuaikan dengan tujuan konsumsi ataupun sasaran pemasaran. Bila tujuan pemasaran jarak jauh atau diekspor, idealnya dipanen pada waktu buah stadium hijau matang kira-kira 3-7 hari sebelum menjadi merah. Sementara untuk tujuan pemasaran jarak dekat (pasar lokal), dapat dipanen sewaktu tomat berwarna kekuning-kuningan. Cara panen tomat adalah dipetik secara hati-hati agar tidak rusak. Panen pada tomat cherry disertakan tangkai atau gagang buahnya. Panen dilakukan secara periodik satu atau dua kali seminggu tergantung keadaan buah yang masak dan waktu panen yang tepat adalah pada cuaca terang (Marpaung, 1997).

Penyimpanan buah-buahan dan sayur-sayuran segar dapat memperpanjang daya gunanya dan dalam keadaan tertentu memperbaiki mutunya. Selain itu penyimpanan bertujuan untuk menghindarkan melimpahnya produk ke pasar, membantu pemasaran yang teratur, meningkatkan keuntungan produsen, dan mempertahankan mutu produk-produk yang masih hidup. Umur simpan dapat diperpanjang dengan pengendalian penyakit-penyakit pasca panen, pengaturan atmosfer, perlakuan kimiawi, penyinaran, dan pendinginan. Sampai sekarang pendinginan merupakan satu-satunya cara yang ekonomis untuk penyimpanan jangka panjang bagi buah-buahan dan sayur-sayuran segar (Pantastico et al, 1986).

Umur simpan tomat tergantung pada tingkat kematangan pada saat panen dan kualitas buah yang diinginkan. Idealnya tomat yang hijau masak dapat disimpan dalam waktu 7-10 hari pada suhu 13-18 ºC dan kelembaban udara 85-90 % (Opena dan Vossen, 1994).

Pengangkutan merupakan mata rantai penting dalam penanganan, penyimpanan, dan distribusi buah-buahan dan sayur-sayuran. Pengangkutan hasil dimulai dari kebun ke tempat-tempat pengumpulan. Setelah melewati proses penanganan bahan ditransportasikan. Di daerah tropika terjadi kerugian-kerugian yang besar pada beberapa titik dalam urutan distribusi yang disebabkan oleh kerusakan komoditi, penanganan kasar, kelambatan-kelambatan yang tidak dapat dihindarkan, pemuatan dan pembongkaran secara tidak hati-hati, penggunaan wadah-wadah untuk pengangkutan yang tidak sesuai, dan kondisi pengangkutan yang kurang memadai. Oleh karena itu, azas pengangkutan komoditi yang mudah rusak menyangkut perangkutan dan penerapan informasi dari banyak disiplin ilmu, seperti biokimia, fisiologi, hortikultura, patologi, pengemasan, pendinginan,pemasaran, pengangkutan, dan perekayasaan
(Chace dan Pantastico, 1986).

Aspek pemasaran merupakan kegiatan untuk mendistribusikan hasil produksi ke tangan konsumen dengan harga yang layak. Manajemen yang baik diperlukan untuk melakukan pemasaran agar pengusaha mendapatkan keuntungan yang diharapkan. Tata niaga dapat dikatakan efisien apabila mampu menyampaikan hasil produksi kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya dan mampu mengadakan pembagian keuntungan yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen kepada semua pihak yang ikutserta di dalam kegiatan produksi dan tata niaga (Rahardi et al., 2001).

Penentuan harga jual hendaknya bertumpu pada harga pokok sebagai standar untuk menentukan harga yang menguntungkan menurut mutu kelas yang ditetapkan pada tahapan grading dan sortasi. Sistem pemasaran dengan mata rantai yang panjang menyebabkan harga di tingkat petani menjadi rendah dan harga di tingkat konsumen menjadi tinggi.Terbentuknya margin pemasaran yang tinggi ini tidak menguntungkan kedua belah pihak. Oleh karena itu, pengenalan lembaga tata niaga yang terlibat dalam pemasaran hasil-hasil pertanian perlu diketahui dan dipelajari oleh para petani produsen sebagai bahan untuk menyusun program atau strategi pemasaran yang efektif dan efisien (Cahyono, 2008).
Kendala yang dihadapi oleh pemasok pasar swalayan yang berkaitan dengan kegiatan pascapanen yang dapat  menyebabkan kehilangan hasil sayuran antara lain adalah adanya kelebihan stok sayuran dari petani atau bandar yang tidak dapat ditampung pemasok pasar swalayan, volume penjualan sayuran dari pasar swalayan yang kurang stabil, dan banyaknya penolakan sayuran di pasar swalayan akibat tidak memenuhi standar (Winata, 2006).

Semakin panjang jalur pemasaran maka semakin besar kehilangan pasca panen yang terjadi. Penanganan pascapanen yang baik dapat menekan tingkat kehilangan pasca panen. Selain itu kegiatan pasca panen yang tepat dapat meningkatkan nilai jual produk sayuran.  Pentingnya aspek ekonomi program-program untuk mengurangi kerugian-kerugian (kehilangan hasil) baik dalam kualitas maupun kuantitas, sering masih terlewati karena biaya untuk mengurangi kehilangan hasil sampai pada tingkat tertentu dapat melebihi nilai produk yang dapat diselamatkan. Apapun yang dilakukan untuk memperbaiki saluran-saluran pemasaran, terjadinya kehilangan hasil pada komoditi hortikultura yang relatif besar tidak dapat dihindarkan. Namun, kehilangan hasil itu untuk masing-masing komoditi dapat dikurangi sampai tingkat yang dapat diterima (Spinks dan Abbot, 1986).

Hasil tanaman hortikultura umumnya mudah rusak (perishable), sehingga kehilangan hasil setelah panen akan sangat tinggi jika produk tersebut tidak segera diolah menjadi bahan yang lebih tahan simpan. Kehilangan hasil pada tahap pascapanen ini umumnya lebih besar di negara-negara berkembang dibandingkan dinegara maju. Besarnya porsi kehilangan hasil pasca panen di Indonesia disebabkan antara lain karena:
1.         Sistem transportasi yang kurang baik, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mengangkut produk pertanian dari lahan produksi ke             pasar menjadi lebih lama.
2.         Kurang tersedianya fasilitas untuk penyimpanan produk pertanian yang      layak.
3.         Kurangnya pengetahuan petani tentang cara pengolahan produksi    pertanian
4.         Kurang tersedianya fasilitas pengolahan produk pertanian
5.         Rendahnya rangsangan pasar (harga jual produk olahan tetap rendah atau   tidak sepadan antara tenaga dan ongkos yang dikeluarkan dalam proses          pengolahan produk pertanian dengan nilai tambah ekonomi yang             didapatkan dari produk olahan tersebut.(Lakitan, 1995).
























III.           METODE KEGIATAN


A.    Lokasi survey
Alamat                        : Jalan Cempaka 1 Way Kandis Rt 01/rw 01
Kecamatan      : Tanjung Seneng
Kabupaten       : Lampung

B.     Responded
Nama lengkap : Sugiyo
Umur               : 50 tahun
Mulai bekerja  : 1975- sekarang
Asal                 : Yogyakarta

C.    Waktu kegiatan
Hari/ tanggal   : Jumat, 27 April 2012
Pukul               : 08.00-11.00 WIB

D.    Parameter yang diamati
Berikut ini adalah beberapa parameter yang diamati, antara lain kepemilikan lahan, umur tanaman dan keadaan tanaman, teknik budidaya yang mencakup penyemaian, penanaman, pemeliharaan (penyiraman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pengendalian gulma), teknik panen hingga pasca panen.




IV.           HASIL SURVEY DAN PEMBAHASAN


A.      Hasil survey

1.        Kepemilikan lahan
Pada kegiatan survey kali ini, kami akan membahas tentang komoditi tomat cherry atau yang biasa disebut dengan rampai.  Kami berkesempatan untuk mewawancarai salah satu petani yang berada di sekitar lahan tersebut.
Pemilik lahan yang berhasil kami wawancarai adalah Bapak Sugiyo, dimana beliau merupakan orang yang merantau dan berasal dari Yogyakarta. Beliau sudah memulai kegiatan bertani ini sejak tahun 1975 sampai sekarang. Umur beliau saat ini sudah mencapai 50 tahun.

Luas lahan yang dimiliki Bapak Sugiyo ini sekitar 1 rantai ½, dimana 1 rantai memiliki luas lahan sekitar 400 m2 , sehingga apabila ditotal keseluruhan, maka luas lahan Bapak Sugito tersebut adalah sekitar 600 m2. Lahan yang dimiliki  Bapak Sugiyo ini merupakan lahan yang Beliau sewa selama setahun sekitar Rp 175 rb/tahun.

2.        Umur tanaman dan keadaan tanaman
Pada kegiatan survey ini, umur tanaman tomat sekitar 10 hari, dan apabila dilihat dari tinggi tanamannya, maka dapat dilihat bahwa tinggi tanaman tomat tersebut tidak serempak. Hal ini disebabkan tidak serempaknya penanaman yang

dilakukan, dan tidak meratanya pemupukan yang diberikan, sehingga menyebabkan tinggi tanaman tidak serempak.
Keadaan tanaman tomat pada saat melakukan kegiatan survey, terlihat bahwa tanaman tersebut dalam keadaan sehat.

3.        Teknik Budidaya

3.1    Penyemaian
Untuk dapat membudidayakan tomat, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyemai bibit tomat yang berasal dari tomat cherry itu sendiri.
Bibit yang baik menurut Bapak Sugiyo adalah bibit yang berbentuk bulat.
Penyemaian dilakukan selama 15 hari. Dimana lahan penyemaian dengan lahan pembudidayaan tanaman tomat dibedakan lahannya.
Tomat cherry sebaiknya ditanam pada musim kemarau, hal ini dikarenakan apabila ditanam pada musim hujan, dikahawatirkan batang tanaman tomat akan terserang penyakit yaitu dengan menimbulkan bercak berwarna cokelat pada batang tanaman tomat.

3.2    Penanaman
Tomat cherry ini ditanam pada lahan dengan jarak tanam sekitar 25 x 20 cm, dimana jarak antar bedengan sekitar 30 cm.

3.3    Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dilakukan antara lain adalah :
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari dengan menggunakan gembor, dan baiknya dilakukan pada sore hari. Dimana dalam 1 bedengan dapat menghabiskan sekitar 4 gembor.


Pemupukan
Pemupukan dilakukan 1-2 kali yaitu pada awal tanam dan pada saat setelah tanam. Pupuk yang digunakan adalah pupuk TSP dan pupuk kompos, yaitu sekitar 20 kg. Pada awal sebelum tanam, pupuk diberikan pada lubang yang sebelumnya telah digali.
Pengendalian hama dan penyakit
Dalam mengendalikan hama dan penyakit, Bapak Sugiyo menggunakan Curacron untuk mengendalikan ulat dan Pasta untuk mengendalikan semut merah.
Pengendalian gulma
Pengendalian gulma dilakukan secara manual, hal ini dikarenakan apabila menggunakan herbisida, maka tanaman tomat yang sudah siap ditanam tidak bisa langsung ditanam.  Lama waktu untuk menunggu hilangnya pengaruh dari herbisida tersebut sekitar 10 hari sampai ½ bulan.
4.        Teknik panen
Setelah mengetahui teknik budidaya, maka kita juga perlu mengetahui tentang teknik panen nya.
Buah tomat yang sudah dapat dipanen, memiliki kriteria tersendiri, yaitu kulit buah berubah dari warna hijau menjadi kekuning-kuningan. Teknik panen buah tomat tidak sulit, yaitu cukup dengan menggunakan tangan dengan cara memuntir buah tomat hingga buah terlepas dari batangnya. Menurut Bapak Sugiyo, buah tomat yang sudah dapat dipanen setelah memasuki hari ke 35-40 hari. Dalam memanen buah tomat dilakukan selang 3 hari. Buah yang sudah di panen di letakkan pada keranjang.
5.        Penanganan pascapanen
Buah tomat yang telah di panen sebaiknya segera dijual, hal ini untuk menghindari terjadinya kehilangan hasil panen. Bapak Sugiyo memasarkan hasil nya ke pasar Kandis sebanyak 1 kuintal, dengan harga 4rb/kg nya. Buah tomat yang telah dipasarkan mampu bertahan sekitar 3-4 hari.
Namun setelah kami melakukan survey ke pasar yang terletak dibawah Ramayana dan pasar Bambu Kuning, para pedagang mendapat pasokan dari Pasar Gintung, mereka hanya dapat memesan buah tomat maksimal 10 kg dengan harga Rp 55.000/kg. Menurut mereka buah tomat hanya dapat bertahan sekitar 2 hari saja, dan ketika kami melakukan wawancara, mereka tidak menggunakan penanganan khusus untuk mempertahankan ketahanan buah. Mereka hanya mengatakan bahwa penanganan tersebut tidak lah penting, karena bagi mereka suatu kerusakan sudah menjadi resiko menjadi seorang pedagang.
Pada umumnya buah yang sudah dipasarkan akan bermasalah pada cara penyimpanannya, salah satunya adalah cara pengatasan penyakit-penyakit pasca panen. Penyakit pascapanen yang paling sering dijumpai adalah penyakit busuk buah. Kebusukan ini terjadi karena diakibatkan infeksi jamur Phytophthora infestans .
Infeksi jamur terhadap produk dapat terjadi pada saat buah tersebut tumbuh dilapangan, namun jamur tersebut tidak tumbuh dan berkembang, hanya berada di dalam jaringan saja. Bila kondisinya memungkinkan terutama setelah produk tersebut dipanen dan mengalami penanganan dan penyimpanan lebih lanjut, maka jamur tersebut segera dapat tumbuh dan berkembang dan menyebabkan pembusukan yang serius.

V.               KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kegiatan survey yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain :
1.      Tidak semua petani memasarkan hasil panennya melalui pengepul, namun petani dapat juga langsung menjual hasil panennya sendiri ke pasar atau ke tetangga nya.
2.      Buah tomat yang sudah dapat dipanen memiliki ciri-ciri, yaitu berubahnya warna dari warna hijau menjadi warna kekuning-kuningan
3.      Untuk memperpanjang masa simpan buah tomat, buah tomat dipanen setengah matang
4.      Penyakit yang sering muncul pada musim hujan adalah busuk batang, sedangkan hama yang sering muncul pada pertanaman tomat adalah ulat
5.      Penyakit pascapnen yang sering muncul pada buah tomat adalah busuk buah yang disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans
6.      Setelah melakukan survey ke salah satu pedagang di pasar, merka tidak terlalu memperhatikan teknik untuk memperpanjang masa simpan.
7.      Pedagang di pasar hanya boleh memesan pada pengepul maksimal 10 kg.
8.      Bagi para pedagang di pasar, kehilangan hasil tomat yang sudah dipanen tidak menjadi beban bagi mereka, karena hasil yang tidak habis dijual, dapat mereka konsumsi sendiri.




DAFTAR PUSTAKA

Cahyono Bambang. 2008. Tomat Usaha Tani dan Penanganan Pasca Panen         (Edisi   revisi). Yogyakarta: Kanisisus
Chace, W., dan Er.B. Pantastico. 1986. Azas-azas Pengangkutan dan          Operasi Pengangkutan Komersial, hal.713-749. Dalam Er. B. Pantastico             (Ed.).Fisiologi Pasca Panen : Penanganan Sayuran dan Pemanfaatan             Buah-  buahan dan Sayur-sayuran Tropika dan Subtropika (Penerjemah     :Kamariyani). Gajah Mada University Press
Harjadi, S. S., H. Sunaryono. 1989. Budidaya Tomat.Hal: 1-25. Dalam: Harjadi,    S. S. (Ed.) Dasar-Dasar Hortikultura. Jurusan Budidaya Pertanian.     FakultasPertanian IPB. Bogor
Lakitan B. 1995. Dasar-dasar Klimatologi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta
Marpaung, L. 1997. Pemanenan dan penanganan buah tomat, hal. 118-127.           DalamA.S. Duriat, W.W. Hadisoeganda, A.H. Permadi, R.M. Sinaga, Y.         Hilman,R.S. Basuki, dan S. Sastrosiswojo (Eds.). Teknologi Produksi          Tomat.Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa). Bandung
Nurtika, N. dan Z. Abidin. 1997. Budidaya tanaman tomat. hlm.62-80. Dalam       Teknologi Produksi Tomat. Balai PenelitianTanaman Sayuran, Lembang
Opena, R.T and H.A.M van der Vossen. 1994. Lycopersicon esculentum Miller,     p199-205. In Siemonsma, J.S. and K. Piluek (Eds.). Plant Resources of   South-East Asia, Vegetables. PROSEA. Bogor. 412 p
Peet, M.M., dan M. Bartholemew. 1986. Effect of night temperature on       pollencharacteristic, growth, and fruit set in tomato. J.Amer. Soc. Hort.             Sci.12(3):514-519
Pantastico, Er.B, dan F. Venter. 1986. Gangguan-gangguan Fisiologi         SelainKerusakan Akibat Pendinginan Bagian 2 (Tomat), hal.597-603.          Dalam Er.B. Pantastico (Ed.). Fisiologi Pasca Panen : Penanganan             Sayuran dan Pemanfaatan Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropika dan   Subtropika (Penerjemah : Kamariyani). Gajah Mada University Press
Rahardi, F., R. Palungkun, dan A. Budiarti. 2001. Agribisnis Tanaman       Sayur.Penebar Swadaya. Jakarta. 50 hal

Rubatzky, V. E., M. Yamaguchi.1999. Sayuran dunia :Prinsip, produksi dan gizi, jilid 3. Penerbit ITB.Bandung. 320 hal.
Spinks, G.R. dan J.C. Abbot. 1986. Praktek-praktek Pemasaran dan           Penanganan di Daerah Tropika Bagian 1 (Asia Tenggara : Suatu Analisis          Praktek-praktek Pemasaran Umum), hal.830-849. Dalam Er. B. Pantastico             (Ed.).Fisiologi Pasca Panen : Penanganan Sayuran dan Pemanfaatan        Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropika dan Subtropika (Penerjemah :Kamariyani). Gajah    Mada University Press
Winata, S.A. 2006. Penanganan Pasca Panen Komoditi Brokoli      (Brassicaoleracea var. Botrytis L. Subvar. Cymosa Lamm) dan Selada    Daun(Lactuca sativa   L.) untuk Tujuan Pasar Swalayan. Skripsi. Program Studi Hortikultura, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.   (Tidak Dipublikasikan)










LAMPIRAN





KONDISI LAHAN
Description: C:\Users\mukliz\Documents\folder kuliah wanty\New folder\FFF\DSCF9948.JPG
Description: C:\Users\mukliz\Documents\folder kuliah wanty\New folder\FFF\DSCF9949.JPG

KONDISI TANAMAN TOMAT

KEGIATAN WAWANCARA
KEGIATAN PEMELIHARAA
SUMBER AIR YANG DIGUNAKAN UNTUK PENYIRAMAN
Description: C:\Users\mukliz\Documents\folder kuliah wanty\New folder\FFF\DSCF9979.JPG
TANAMAN YANG DIGUNAKAN DALAM PERGILIRAN TANAMAN
KEGIATAN PEMASARAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar